Kalender Hijriyah

Kamis, 5 Shawwal 1446 H

Suka-duka Kehamilan dan Kelahiran Anak Pertama

Posting Komentar



Suka-duka Kehamilan dan Kelahiran Anak Pertama
Bismillah
Allohumma Shalli ala Muhammad, Amma ba’d

Assalamu’alaikum?
Kali ini aku ingin menceritakan sedikit awal kehamilan sampai akhir persalinanku, yang penuh dengan pertolongan Alloh, yang sampai sekarang aku masih heran, masya Alloh “kok bisa ya?”
Tapi sebelumnya aku minta maaf, inysa Alloh di sini aku tidak berniat pamer apalagi sombong. Aku hanya ingin berbagi cerita dan mengajak untuk meningkatkan taqwa

Hari itu tanggal 3 Mei 2018 aku resmi menjadi istri dari seorang ikhwan sholeh yang hanya memilki perbedaan umur 1 tahun denganku. Semua pasangan yang baru menikah pasti ingin segera memiliki keturunan.
Tapi setelah satu bulan menikah aku mengalami sakit saat buang air kecil. Sehingga kami perlu pergi ke dokter. Aku melakukan rontgen ginjal untuk melihat penyakitku lebih detail. Kata dokter aku terkena infeksi saluran kemih sehingga belum dapat hamil dan harus melakukan proses penyembuhan. Padahal aku ingin segera hamil.
Aku tunggu bulan kedua bulan ketiga belum juga hamil. Dalam hati hawatir karena aku adalah penyuka kucing, ada rasa takut kucing bisa menjadi penghalang aku hamil, karena kucing memiliki kemungkinan toksoplasma, tapi jangan mengkambinghitamkan kucing, Karena yang berkehendak atas segala sesuatu adalah Alloh. Yang suka kucing belum tentu tidak bisa hamil begitupun yang tidak suka kucing belum tentu bisa hamil semuanya adalah Qadarullah.
Alhamdulillah setelah proses penyembuhan ISK-ku 17 juli 2018 ternyata adalah haid terakhirku, aku tidak langsung testpack karena takut kecewa sehingga aku menunggu hingga satu bulan. Bulan agustus aku coba testpack karena haid belum juga datang, Alhamdulillah wa syukurilah testpack menunjukkan garis 2, seketika langsung kupeluk suami.
dan memang benar setelah ke dokter di usg sudah terlihat kantung janin, masha Alloh terimakasih atas amanahmu ya Alloh. Aku akan menjadi seorang umi, apakah aku mampu? Tapi aku percaya Alloh memberikan suatu amanah kepada hambanya karena Alloh tahu ia mampu.

Awal Kehamilan
Hari demi hari aku mulai merasakan mual, tidak suka mencium bau nasi matang, aku hanya suka makan sereal dan pisang keju. Karena nasi tidak bisa masuk aku coba ganti dengan kentang dan umbi-umbian, walau sedikit tapi Alhamdulillah aku mau makan. Akhirnya masa-masa mual berakhir,
aku khawatir karena sudah 5 bulan perutku masih imut-imut tapi setiap kontrol (aku kontrol 1 bulan sekali), dokter selalu bilang semua baik-baik saja dan pertumbuhan bayiku semuanya normal. Aku tidak sabar untuk usg di usia 5 bulan karena jujur aku sangat ingin memiliki bayi perempuan agar aku bisa membeli segala perlengkapan serba pink. Tapi ternyata hasil usg menyatakan bahwa bayiku laki-laki Alloh ternyata mengabulkan doa suamiku. Karena yang ingin anak laki-laki adalah suami. Alhamdulillah.. aku tetap bersyukur laki-laki atau perempuan yang penting sehat dan normal segala sesuatunya.
Selama hamil dari 0w-37w aku masih bekerja, naik motor, beraktifitas seperti biasa. Hamil ataupun tidak hamil aktifitasku sama tidak ada yang berkurang. Alhgamdulillah Alloh memberikan badan yang kuat, sehat. Aku termasuk yang tidak manja saat hamil karena di 37w aku masih pakai motor. Nafsu makanku mulai kembali di TM 2 bahkan lebih banyak lagi, aku makan semua makanan kecuali mie instan dan makanan-makanan yang mengandung MSG. Aku sangat menghindari makanan tsb.
Hamil membuat hati ini senang tapi tak tenang juga karena kekhawatiran akan proses melahirkan. untuk membuat hati tenang aku memperbanyak shalat dari shalat wajib, sunah, mengaji aku lakukan.
Bulan demi bulan perut buncitku mulai terlihat tapi semua tetanggaku mengetahuinya ketika usia kehamilanku sudah jalan 8 bulan karena begitu imutnya perutku dan tidak ada perubahan signifikan, karena apa yang aku makan semua masuk ke janinku.
Semakin besar perut berarti semakin lincah gerakan bayiku. mashaAlloh begitu indah gerakannya di kanan di kiri di tengah dari kedutan, kemudian tendangan kecil menjadi tendangan lebih besar sampai sampai terasa sakit mashaAlloh kuasaMu ya Alloh.
Masa-masa tersulit adalah saat usia kehamilan TM 1 karena sulit masuk makanan, tapi setelah melewati masa tsb semuanya indah makan enak, aktifitaspun seperti sedang tidak hamil aku sering naik turun tangga karena kamarku di lantai 2.
Akhir masa kehamilan membuat hati tak tenang dan gelisah tapi suami/abi selalu menyemangati dan pernah ia menceritakan proses melahirkan istri temannya begitu mudah dan cepat bahkan di kehamilan kedua dan ketiga, melahirkannya hanya dengan bantuan suaminya karena nakesnya telat datang. Datang ketika bayi sudah lahir. Ternyata mengapa bisa semudah itu tispnya adalah PERBANYAK SHALAT, mashaAlloh.
Dan aku pun semakin semangat untuk memperbanyak shalat. Tidak hanya shalat wajib 5 waktu, tapi ditambah shalat-shalat sunnah. Seperti sunnah Qabliyah-ba’diyyah, duha, fajar. Dan yang paling aku andalkan setelah shalat wajib, adalah shalat tahajud. Biarpun terasa sangat berat, di tengah malam harus terbangun. Tapi Alhamdulillah, aku dikaruniai suami yang shaleh, yang sering membangunkanku untuk tahajud. Kadang suami setelah tahajud membangunkanku, kadang kita juga tahajud bareng. Kadang juga aku tahajud sendiri, sedangkan suami tidur lelap karena kelelahan. Tapi yang jelas, saat tahajud lah dimana aku paling berharap kepada Alloh tentang kehamilan, kelahiran dan bagaimana anakku.
Ibuku mempunyai keinginan agar cucunya menjadi penghafal qur’an, sampai-sampai ibu membelikanku Mp3 Al qur’an. Ditambah lagi aku mendengarkan ceramah Ustadz Adi Hidayat (barakAllohu fih), bahwa jika ingin mempunyai anak penghafal qur’an, dengarkan kepada anak suara mp3 Al qur’an setiap hari, bahkan sejak masih janin. Suami pun punya semangat seperti itu, sehingga setiap hari suara al qur’an dilantunkan untuk janinku.
Tidak Cuma mp3, aku juga jadi semakin semangat membaca al qur’an, begitu pula suami. Bahkan sering suami yang mengingatkanku untuk membaca.
Pada masa akhir kehamilanku usia kandungan 7 bulan posisi bayiku masih sungsang sehingga dokter menyarankan agar memperbanyak gerakan medis, seperti sujud gitu. Tapi kembali lagi seperti di atas, aku mengikuti perintah dokter, tapi aku semakin mendekat ke Alloh dengan memperbanyak sujud/shalat. Alhamdulillah dengan cara itu tak lama kemudian, kepala bayiku sudah di bawah.
Masih ada kehawatiran lain saat aku control untuk yang terakhir kali di usia kehamilan 39 minggu bayiku belum masuk panggul, karena ini aku belum merasakan kontraksi sekalipun kontraksi palsu.  Dokter bilang aku diberi waktu 7 hari dari due datenya 24 april 2019 untuk melakukan treatment agar bayi masuk panggul dengan cara berjalan setiap hari selama 1 jam, kalau dalam waktu tersebut bayik belum masuk panggul dokter akan melakukan operasi karena air ketubanku sudah semakin sedikit. Tapi suami selalu menenangkankanku dengan berkata “tenang aja, insya Alloh lahiranya normal. Kan ada Alloh”. Aku pun sedikit lega, tapi sebenarnya aku semakin cemas, tapi aku menuruti suami, justru saat –saat seperti itu harus semakin mendekat kepada Alloh dengan memperbanyak doa.
Dari 3 bulan terakhir suami sudah punya firasat bahwa bayiku akan lahir 19 april 2019. Karena batas waktu melahirkan bisa sampai 40 pekan, aku segera pergi ke nakes/bidan supaya bisa lebih tenang dan curhat tentang ini. Bidan pun menyarankan hal yang lebih keras lagi yaitu squat 300x dan jalan cepat/lari 3 jam setiap hari, tapi kata bidan kalau tidak kuat segini sebisanya saja, tapi kalau bisa seperti yg disarankan prosesnnya akan lebih cepat. Dalam waktu 7 hari aku berusaha keras tapi sayang sekali aku hanya mampu melakukan jalan cepat 1.5 jam dan squat 150x itupun sudah membuat aku sakit badan dan kaki pegal-pegal sungguh sangat melelahkan.
Semakin khawatir perasaan ini karena sudah mendekati due date tapi belum ada tanda-tanda yang cukup intens . Tapi suamiku dengan yakin berkata “Insya Alloh akan lahir 19 April agar 18 April abi bisa pulang cimahi nemenin umi lahiran (karena Alhamdulillah suami lolos CPNS 2018, dan ditugaskan di Banyumas, Jawa Tengah).

Detik-detik Kelahiran
QadarAlloh beberapa hari tersisa aku sudah mulai merasakan kontraksi-kontraksi palsu. Pagi itu tanggal 17 april 2019 aku tidak melakukan olahraga itu karena kaki sudah benar-benar sakit, tapi aku coba paksakan untuk berjalan pelan saja dari rumah ke pasar. Hari itu aku dapat WA kalau suami tidak bisa menemani proses persalinanku dengan alasan yang mencurigakan. Padahal ia sakit parah (gejala tipes) ia tidak mau membenani pikiranku yang sedang galau juga karena bayi yang belum masuk panggul.
Esok harinya 18 april 2019 aku mulai merasakan gelombang cinta dari pagi hingga sore tapi tidak terlalu intens. Malam hari pukul 7 sudah mulai intens dan punggung mulai panas. Luar biasa nikmat gelombang cinta ini ya Alloh. Punggungku diusap-usap oleh ibuku lumayan mengurangi rasa sakit kontraksi.
Dari sore hari aku sudah menghubungi bidan tempat aku konsultasi. Kata bidan lahiran masih lama karena gelombang cinta belum intens 3 menit sekali bidan bilang masih jauh dari lahiran. SubhanAlloh ternyata pukul 21.00 semakin sakit, saat itu sudah keluar flek. Salah satu tanda aku akan melahirkan hari ini.
Aku langsung menghubungi bidan yang sudah sering aku konsultasi dengannya sebab ia sangat pro dengan persalinan gentle birth. Proses persalinan yang aku inginkan tanpa intervensi, penuh kesabaran, dan ketenangan.
QadarAlloh aku belum berjodoh dengan beliau sebab beliau juga baru saja melahirkan dan saat itu beliau sedang di rumah orang tuanya. Sehingga akupun harus mencari bidan lain. Sebenarnya bidan sebelumnya sudah merekomendasikan temannya untuk membantu proses persalinanku, hanya aku ingin bersalin di second opinion ku yaitu tempat persalinan daerah cigugur.
Aku langsung pesan grab, naik grab dengan ibu dan ayahku menyusul menggunakan motor di belakang. Ujian datang lagi, bidan disana ternyata sedang keluar tempatnya kosong memang hari itu seingatku adalah tanggal merah. Kehawatiran semakin memuncak dan kontraksiku semakin sakit. ibuku yang membawa tas ikut khawatir sambil lari-lari mencari kendaraan, posisinya itu malam hari sehingga sulit sekali mencari angkutan di daerah itu. 
Aku berdoa ya Alloh jangan sekarang ya Alloh mudahkan aku mencari tempat bersalin. Alloh masih memberikan jalan karena ayahku mengikuti kami dengan motor. Sehingga aku bisa naik motor dengan ayah untuk mencari tempat bersalin di daerah itu. Alhamdulillah tidak jauh dari bidan itu kami menemukan bidan lain, tapi ternyata ada tulisan di depannya “emergency harus janjian dahulu”. Makanya walau di bel berkali-kali bidan tidak mau menangani. Semakin semakin nyeri kontraksi ini ya Alloh rasanya aku sudah tidak bisa menahan.

Alhamdulillah, pertolongan Alloh masih datang kepadaku, di depan bidan itu ada penjual nasi goreng. Seorang lelaki muda memberikan pertolongan ia berkata “kasian tetehnya ayo saya antarkan ke tempat keponakan saya waktu ia melahirkan, bidannya 24 jam”. Dengan cepat kami pergi ke bidan tersebut, ibuku dibonceng lelaki muda itu, dan aku dibonceng ayahku. Ternyata bidannya cukup jauh, di perjalanan kontraksiku semakin luar biasa, ditambah jalan cigugur yang banyak polisi tidur dan berlubang juga, aku menggenggam erat pundak ayahku. Ayah bertanya “sakit ya put, gimana atuh put gimana”. “ya sakit banget pak udah gak kuat jauh banget ini”.
Alhamdulillah setelah 10 menit tepat pukul 23.00 aku sampai di bidan aku tergolek lemas di bawah menahan sakitnya kontraksi. Diketuk-ketuklah rumah bidan itu, Alhamdulillah ada yang menjawab aku segera dibawa ke ruang persalinan. Semua dipersiapkan dan aku di cek pembukaan, setelah di cek aku sudah pembukaan 8.
mashaAlloh ternyata perasaan sakit di perjalanan itu sedang proses pembukaan, proses pembukaan yang cukup cepat. Pukul 23.15 bidan sudah memberikan aba-aba agar aku mengejan, disampingku ada ibuku yang tak henti-hentinya bershalawat. “Allohumashalli ala Muhammad 5x, ayo put, bismillah. Alhamdulillahirabbil alamin
ALLOHU AKBAR hanya beberapa kali mengejan seorang bayi mungil lahir dari rahimku pukul 23.30 mashaAlloh 15 menit saja proses mengejannya, suara tangisannya sangat keras. Bidan langsung menaruh bayi itu di dadaku IMD (inisiasi menyusui dini) selama 1 jam. Kemudian bidan mengeluarkan plasenta dengan memijat mijat perutku.
Alhamdulillah aku hanya dijait 4 jaitan karena tidak di episiotomy, robekannya robekan alami. Segera aku kabari suami bahwa aku sudah melahirkan sesuai prediksinya, sampai hari itu aku belum tau siapa nama anak ini. Karena memang abinya yang kasih nama.
Abinya tau kalo kasih nama bersama denganku pasti namanya akan panjang 3 suku kata minimal. Abinya memang ingin nama anak-anak kami hanya satu kata saja. MashaAlloh lagi, aku ditolong oleh bidan yang ternyata ibunya temanku di SMA. Aku bisa melahirkan normal bukan melahirkan operasi seperti prediksi dokter. Jujur dari awal aku memang tidak mau operasi karena operasi bisa membatasi jumlah anak. Makanya aku sangat berusaha untuk lahiran normal apapun yang terjadi. Dokter bukan Alloh, semuanya bisa dengan mudah diubah oleh Alloh.
Perjalanan melahirkan ini membuat aku bersyukur karena merasakan pembukaan yang sakitnya tidak sakit sakit amat. Sampai saat ini aku masih bertanya Tanya, Subhanalloh “ternyata melahirkan sakitnya gak sakit sakit amat” seperti yang diceritakan orang-orang sakit banget, bahkan membutuhkan proses berjam-jam.
Karena proses melahirkan seperti ini aku semakin yakin untuk hamil lagi dan ingin merasakan proses melahirkan yang seindah itu. Orang-orang yang dekat denganku pasti sudah tahu aku dari SMA sudah bercita-cita memiliki banyak anak. 7, 11, atau 21, insyaAlloh.
Tipsku jangan lupa ketika hamil perbanyaklah shalat (tahajud, dhuha, qabliyah, badiyah, dll), dzikir, shalawat, mengaji.
Kalau bisa (dan harus dipaksakan bisa), mendekat dan melibatkan Alloh dari awal kehamilan, bahkan dari awal pernikahan, bahkan dalam proses pencarian pasangan. Usahakan sungguh-sungguh melibatkan Alloh, terutama usia 9 bulan karena tidak ada haid yang menganggu walau memang ketika hamil tingkat kemalasannya meningkat 2x lipat tapi tetap harus dipaksakan. Insya Alloh pertolongan Alloh itu sangat dekat mashaAlloh.. Allohu Akbar.
Selanjutnya aku mohon doanya, agar kami menjadi keluarga sakinah mawaddah wa rahmah, dan anakku yang sekarang dinamai ABDURRAHMAN kelak menjadi pemuda shaleh yang se-shaleh dan sekaya Sahabat Rasulullah shallAllohu ‘alaihi wa sallam yaitu Abdurrahman bin Auf
Terkahir… aku doakan kalian
Ya Alloh, ampunilah semua dosa-dosa saudara kami yang seiman dan seislam
Mereka yang belum menikah, pertemukanlah dengan pasangan yang akan membawa ke Jalan-Mu
Mereka yang sudah menikah, karuniakanlah kehamilan yang mudah dan sehat.
Mereka yang sudah hamil, sehatkan badanya dan janinnya. Dan mudahkan mereka dalam melahirkan anaknya. Jadikan rasa sakitnya sebagai penghapus segala dosa-dosanya.
Mereka yang sudah melahirkan, jadikanlah anak-anaknya menjadi anak yang sehat, shaleh pelanjut perjuangan dakwah Rasulullah shallAllohu ‘alaihi wa sallam.

Kalau kalian merasa cerita ini manfaat, silahkan dibagikan ke banyak orang, agar menjadi pahala jariyah yang terus mengalir.

Alhamdulillah
Wallohu a’lam
Banyumas, 19 September 2019
Ummu Abdurrahman

Related Posts

Posting Komentar